SEO BLOG & TEMPLATES
Wiki Prasejarah »
Flora Dan Fauna
,
Prasejarah
»
Zaman Dinosaurus Dalam Pandangan Islam
Zaman Dinosaurus Dalam Pandangan Islam
Ditulis oleh Wiki Prasejarah, Pada Kamis, 03 Maret 2016 |
Flora Dan Fauna,
Prasejarah
Tanya
:
Bagaimana perspektif Islam terhadap keberadaan binatang prasejarah di masa
lampau seperti Dinosaurus dan yang semisalnya?. Adakah ia benar-benar pernah
ada di bumi ? Dan benarkah seandainya kita tahu dan tidak tahu tentang masalah
dinosaurus, tidaklah menambah iman maupun mengurangi iman kita ?.
Jawab
:
Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak menetapkan atau menafikkan keberadaan
makhluk-makhluk tersebut di dunia secara spesifik. Yang disebutkan dalam
nash-nash adalah bintang-binatang dengan jenis sebagaimana yang kita kenal
sekarang seperti gajah, singa, anjing, burung, tikus, dan yang lainnya.
Keberadaan
binatang-binatang prasejarah ditetapkan berdasarkan hasil penemuan fosil-fosil
yang terpendam di dalam tanah berupa tulang, atau cetakan badan yang ada di
bebatuan. Untuk menentukannya mesti ditanyakan kepada ahlinya yang mempunyai
spesialisasi keilmuan di bidang tersebut, karena pengetahuan seperti ini adalah
pengetahuan spesifik yang bersifat nadhariy, yang membutuhkan
penelitian. Allah ta’ala berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ
لا تَعْلَمُونَ
“Maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”
[QS. An-Nahl : 43].
Para
ahli telah menyatakan bahwa keberadaan fosil adalah realitas (fakta) adanya
kehidupan di masa lampau, baik fosil tumbuhan maupun hewan. Misalnya
ditemukannya fosil kepala buaya Uberabasuchus terrificus[1],
tulang kaki spesies yang dinamakan Neuquenraptor argentinus[2],
tengkorak Stegoceras[3],
tengkorak Triceratops[4],
T-rex[5],
dan masih banyak yang lainnya. Sekali lagi, ini adalah fakta. Dengan kata lain,
tidak mungkin ada bekas dan jejak apabila makhluk pemilik bekas dan jejak
tersebut tidak ada. Oleh karena itu dikatakan : keberadaan binatang-binatang
prasejarah tersebut adalah benar menurut para pakar/ahli yang membidangi ilmu
tersebut. Setiap bidang mempunyai pakar masing-masing yang berhak bicara.
Apakah pengetahuan tersebut mencapai derajat yakin/kepastian ?. Ya, bagi mereka
yang telah menelitinya atau bersandar/percaya pada hasil penelitian yang
dilakukan oleh para ahli; karena ini adalah ilmu nadhariy. Tentu saja,
derajat keyakinan ilmu nadhariy seperti ini beda dengan ilmu-ilmu yang
bersifat aksiomatik. Bagi mereka yang tidak menaruh perhatian dalam bidang ini,
bisa jadi ia meragukannya atau bahkan mendustakannya.
Adapun
bentuk rinci hasil ekstrapolasi dan peragaan dari fosil-fosil tersebut (seperti
yang ada dalam film, animasi, gambar, dan patung/boneka), maka inilah yang
masih diperdebatkan. Gambaran-gambaran yang ada hanyalah perkiraan saja sesuai
yang dibayangkan oleh masing-masing peneliti.
Apakah
binatang-binatang tersebut hidup di masa peradaban manusia jaman dahulu ?.
Tidak ada yang mengetahui, karena masih sebatas perkiraan (teori). Nash-nash
tidak menyebutkannya. Tidak ada yang tahu kapan persisnya Nabi Aadam ‘alaihis-salaam hidup, sehingga
tidak dapat diperbandingkan dengan perkiraan usia fosil yang dihitung
para ahli.
Seandainya
binatang-binatang tersebut hidup di jaman sebelum peradaban manusia sebagaimana
dikatakan sebagian orang, maka ini tidak mustahil, karena Allah ta’ala berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي
جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ
الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ
مَا لا تَعْلَمُونَ
“Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang ‘khalifah’ di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" [QS.
Al-Baqarah : 30].
‘Khaliifah’
(pengganti) dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia hanyalah menggantikan
makhluk sebelumnya. Telah ada makhluk lain yang eksis hidup lebih dahulu di
bumi sebelum Aadam diturunkan. Lebih jelas lagi dengan sabda Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam berikut:
خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ
يَوْمَ السَّبْتِ، وَخَلَقَ فِيهَا الْجِبَالَ يَوْمَ الْأَحَدِ، وَخَلَقَ الشَّجَرَ
يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، وَخَلَقَ الْمَكْرُوهَ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ، وَخَلَقَ النُّورَ
يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ، وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ، وَخَلَقَ آدَمَ
عَلَيْهِ السَّلَام بَعْدَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فِي آخِرِ الْخَلْقِ
فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمُعَةِ، فِيمَا بَيْنَ الْعَصْرِ إِلَى اللَّيْلِ
“Allah
‘azza wa jalla menciptakan tanah pada hari Sabtu. Menciptakan gunung-gunung
padanya pada hari Ahad. Menciptakan pepohonan pada hari Senin. Menciptakan
hal-hal yang dibenci (keburukan) pada hari Selasa. Menciptakan cahaya pada hari
Rabu. Mengembang-biakkan binatang-binatang pada hari Kamis. Dan menciptakan
Aadam ‘alaihis-salaam setelah waktu ‘Ashar hari Jum’at pada akhir penciptaan,
yaitu pada akhir waktu hari Jum’at antara ‘Ashar hingga malam”
[Diriwayatkan oleh Muslim no. 2789].
Hadits
di atas memberikan faedah bahwa tumbuhan dan binatang Allah ciptakan lebih
dahulu di bumi sebelum Ia menciptakan Aadam. Tentang perincian apa saja
tumbuhan dan binatang yang Allah ciptakan pada masa awal penciptaan, hanya
Allah ta’ala yang mengetahuinya.
Barangkali
benar jika dikatakan bahwa tidak mengetahui masalah dinosaurus tidak akan
mengurangi keimanan seseorang, karena mengetahui hal tersebut bukan sesuatu
yang dituntut oleh agama dan bermanfaat bagi kehidupan pribadi dunianya. Namun
jika dikatakan mengetahui permasalahan dinosaurus dan kehidupan prasejarah
pasti tidak akan menambah keimanan si empunya, maka ini tidak benar. Ketika seseorang
dengan pengetahuan dunia yang dimilikinya semakin bertambah yakin terhadap
Penciptanya (Al-Khaaliq, Allah ‘azza wa jalla) bahwa Ia adalah
sebaik-baik Pencipta, segala sesuatu yang Ia ciptakan pasti ada hikmahnya dan
tidak sia-sia[6]
meskipun manusia belum mengetahuinya, atau membenarkan nash-nash; maka pada
saat itu imannya bertambah. Atau dengan pengetahuan yang ia miliki tersebut, ia
membuka cabang ilmu pengetahuan lain yang memberikan manfaat bagi manusia,
sehingga pada saat itu pula lah keimanannya juga bertambah karena amal
kebaikan.
Wallaahu
a’lam bish-shawwaab.
Semoga
jawaban ini ada manfaatnya.
Ad unit
Top 5 Popular of The Week
-
"Bikin terharu!" Banyak sekali orang mengejek bahwa binatang tidak memiliki akal budi dan pikiran yang baik. Hewan tak bisa ber...
-
Disney Judy Hopps, karakter utama film animasi "Zootopia" Judy Hopps ingin menjadi polisi. Impiannya terwuj...
-
Penyakit Bidur atau biduran sering dikarenakan oleh darah kotor, udara yang dingin serta dapat pula dikarenakan oleh alergi pada makan...
-
Sumber gambar: eachfact.com Seorang pembunuh berantai mendapat julukan Charlie Chop-Off karena caranya yang teramat brutal dalam menghabi...
-
Walaupun dinosaurus hewan yang sampai sekarang masih menjadi sebuah misteri oleh para ilmuwan tidak asing Hewan ini menjadi bahan per...
-
Monster laut jaman sekarang tidak ada apa apanya dibandingkan Monster laut pada Zaman Prasejarah, tapi lautan terkenal indah dan juga meng...
-
Taukah anda? Serai serta apel hijau yg dapat membantu regenarasi tulang pada lutut Bahan yg diperlukan : 5 batang serai dan 2 butir...
-
Ngakak, 15 Penemuan Jadul Paling Aneh yang Bikin Kamu Gagal Paham! Inovasi itu ternyata gak cuma ada di zaman sekarang yang notabene ...
-
Tanya : Bagaimana perspektif Islam terhadap keberadaan binatang prasejarah di masa lampau seperti Dinosaurus dan yang semisalnya?. Ad...
-
Didiagnosis dengan hipertensi dan diabetes empat th. lalu. Dia memahami bila dia harus mengambil insulin dan pil tekanan darah tinggi. ...


Oh sekarang sudah mengerti :D :v thanks gan
BalasHapus